RSS

Jepang pada Zaman Azuchi Momoyama dan Zaman Edo

23 Jan

Orang Jepang menyebut periode dari tahun 1467 hingga 1560 denga sebutan zaman Sengoku (negeri yang sedang berperang). Adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sekitar tahun 1493 Peristiwa Meiōnoseihen (pergolakan di dalam klan Ashikaga untuk menentukan pewaris jabatan shogun) sampai shogun ke-15 Ashikaga Yoshiaki ditaklukkan oleh Oda Nobunaga yang menandai akhir zaman Muromachi dan mengawali zaman Azuchi Momoyama. Zaman Sengoku adalah akhir dari zaman Muromachi. Ada juga pendapat yang mengatakan zaman Azuchi Momoyama atau disebut juga zaman Shokuhō (zaman Oda Nobunaga-Toyotomi Hideyoshi) sudah dimulai sejak Oda Nobunaga mulai bertugas di Kyoto sebagai pengikut Ashikaga Yoshiaki Tahap pertama peperangan Sengoku yang berlangsung samapi 1477, dicetuskan oleh perselisihan antara dua tuan tanah terkemuka yang tinggal di Kyoto di dua wilayah terpisah dan terlibat dalam sengketa mengenai siapa yang berhak menjadi kepala pewaris keluar Ashikaga. Pertarungan selama sepuluh tahun di dalam dan disekitar Ibukota mengakibatkan Ibukota hancur berkeping-keping dan Bakufu kacau balau. Sehingga menjadi fokus bagi setiap konflik politik maupun konflik lokal. Tuan-tuan tanah yang tidak mempan kendali kekuasaan Shogun bertarung satu sama lain untuk menguasai tanah lawan. Sementara pasukan mereka masing-masing terus bertambah. Banyak dari anggota pasukan ini yang bukan samurai tapi prajurit jalan kaki atau ashigaru yang bersenjata tombak dan bertempur dalam kelompok-kelompok, yang penggunaannya secara tepat dalam medan tempur menuntut kehalian baru kepemimpinan militer.
Pemimpin yang tidak memiliki kemampuan yang diperlukan untuk situasi perang akan digantikan oleh wakil yang ambisius atau oleh lawannya, yang membunuhnya, mengalahkannya dalam pertempuran atau menumbangkannya ketika ia sedang mengurus kepentingannya di luar kota jauh dari pusat kekuasaannya. Akibatnya beberapa dari tanah-tanah yang luas dipecah-pecah menjadi lahan-lahan kecil.
Tahun 1453 Asakura Toshikage dari keluarga shiba diutus  ke Echizen untuk menyelesaikan sengketa atas nama tuannya. Ia menggunakan wewenang khusus jabatannya untuk memperoleh hak milik tanah untuk dirinya sendiri. Dan pada tahun 1471 ia menyatakan dirinya bebas dari keluarga shiba dan berhasil mempertahankan tanahnya dari serangan. Didalam wilayah-wilayah tempat mereka memjadi pemimpin baik tuan tanah lama maupun tuan tanah baru dihadapkan pada masalah bagaimana menegakan kemenangan mereka. Lapisan atas masyarakat pedesaan yang pada saat itu terdiri dari sebagian besar pemilik tanah yang disebut kokujin, banyak dari mereka ini yang telah menyatakan kesetiaan kepada shugo. Tetapi ada juga masyarakat yang banyak melawan dari para tuan-tuan tanah hal ini disebabkan karena banyaknya pungutan yang diberikan para pejabat kepada masyarakat. Dalam upaya menegakan disiplin masyarakat melawan pemberontakan dan penentangan ini para tuan tanah yang lama maupun yang baru memiliki beberapa hal yang menguntungkan. Pertama memiliki kekuatan militer yang sangat besar. Kedua kenyataan bahwa pihak-pihak yang berprotes melawan mereka yaitu petani dan rahib terpecah-pecah satu sama lain. Sedangkan pimpinan dari setiap wilayah yaitu Daimyo kekuasaannya mutlak dan jabatannya turun temurun. Jika wilayahnya cukup kuat ia memiliki sebuah benteng yang sangat besar di bagian yang lain vasalnya diwajibkan tinggal membentuk kekuataan militer dan siap bertugas setiap saat.
Kekuasaan sah Daimyo tidak lagi dibatasi hanya kekuasaan atas vassal dan atas hak tanah tetapi bila ia menetapkan undang-undang dan undang-undang itu dimaksudkan untuk mengatur semua penduduk di wilayahnya dan berkaitan dengan kepentingan masyarakat diperbolehkan. Misalnya undang-undang yang dibuat oleh Asakura Toshikage dari Echizen membuat undang-undang yang isisnya menetapkan inspeksi berkala di provinsi, melarang pembangunan benteng dan pertahanan dan lainnya. Meski daimyo mewujudkan persatuan di tingkat local bahkan di tingkat provinsi, dampaknya memecah-mecah Jepang lebih jauh. Pemulihan ketertiban dalam arti yang lebih luas menuntut pembangunan kembali Negara, yang hamper seluruhnya lepas dari genggaman tangan Ashikaga. Inilah tugas yang dipikul oleh Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyashu pada bagian kedua abad ke -16. Setelah hamper seratus tahun dilandaperang saudara setidak-setidaknya enam yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menjalankan tugas itu.

1.  Pemerintahan Oda Nobunaga
Nobunaga dilahirkan di Istana Shōbata pada tahun 1534 sebagai putra ketiga daimyo zaman Sengoku provinsi Owari yang bernama Oda Nobuhide. Pada tahun 1546, Nobunaga menyebut dirinya sebagai Oda Kazusanosuke (Oda Nobunaga) setelah diresmikan sebagai orang dewasa pada usia 13 tahun di Istana Furuwatari. Nobunaga mewarisi jabatan kepala klan (katoku) setelah Oda Nobuhide tutup usia. Pada tahun 1548, Nobunaga mulai memimpin pasukan sebagai pengganti sang ayah. Nobunaga menggunakan beberapa tahun untuk memperkokoh kedudukannya di wilayah sekitar tanah miliknya. Sebuah persekutuan dengan seorang vasal Imagawa memberinya perlindungan dari sebelah timur. Pasukannya kecil tetapi cekatan dan peralatannya lengkap (ia salah satu dari beberapa orang yang pertam-tama menyadari potensi senjata api yang diperkenalkan Portugis tahun1543 dan  sudah dibuat Jepang). Memanfaatkan sebesar mungkin peluang-peluang ini, dia merebut Ibukota, mengukuhkan Yoshiyaki sebagai shogun dan mengangkat diri sebagai wakilnya. Tidak lama kemudian ia sebagai wakil shogun ia berhak duduk anggota senior Bakufu diatas kertas dan juga dalam pernyataan karena Yoshiyaki diturunkan dari jabatannya. Pada tanggal 24 Agustus 1556, Nobunaga memadamkan pemberontakan yang dipimpin adik kandungnya sendiri Oda Nobuyuki, Hayashi Hidesada, Hayashi Michitomo, dan Shibata Katsuie dalam Pertempuran Inō. Oda Nobuyuki sudah terkurung di dalam Istana Suemori yang dikepung pasukan Nobunaga, ketika sang ibu (Dota Gozen) datang untuk menengahi pertempuran di antara kedua putranya. Dota Gozen lalu meminta Nobunaga untuk mengampuni Nobuyuki. Pada tahun 1559, keluarga Nobunaga berhasil memegang kendali kekuasaan di provinsi Owari.
Pada tahun 1567, Nobunaga mulai secara terang-terangan menunjukkan ambisinya menguasai seluruh Jepang. Keinginan Nobunaga untuk menaklukkan seluruh Jepang dimulai dari provinsi Mino, karena pada saat itu menguasai Mino sama artinya dengan menguasai seluruh Jepang. Mulai sekitar tahun 1567, Nobunaga juga berusaha menaklukkan provinsi Ise. Provinsi Ise akhirnya berhasil dikuasai Nobunaga dengan bantuan kedua putranya yang dikawinkan dengan anggota keluarga klan yang berpengaruh di Ise. Pada tahun 1568, Nobunaga memaksa klan Kambe untuk menyerah dengan imbalan Oda Nobutaka dijadikan penerus keturunan klan Kambe.
Pada tahun 1569, Nobunaga juga berhasil menundukkan klan Kitabatake yang menguasai provinsi Ise. Putra kedua Nobunaga yang bernama Oda Nobuo (Oda Nobukatsu) dijadikan sebagai penerus keturunan Kitabatake.
Pada bulan April 1570, Nobunaga bersama Tokugawa Ieyasu memimpin pasukan untuk menyerang Asakura Yoshikage di provinsi Echizen. Istana milik Asakura satu demi satu berhasil ditaklukkan pasukan gabungan Oda-Tokugawa. Pasukan sedang dalam iring-iringan menuju Kanegasaki ketika secara tiba-tiba Azai Nagamasa (sekutu Nobunaga dari Ōmi utara) berkhianat dan menyerang pasukan Oda-Tokugawa dari belakang. Nobunaga sudah dalam posisi terjepit ketika Kinoshita Hideyoshi meminta diberi kesempatan bertempur di bagian paling belakang dibantu Tokugawa Ieyasu agar Nobunaga mempunyai kesempatan untuk kabur. Pada akhirnya, Nobunaga bisa kembali ke Kyoto. Peristiwa ini disebut Jalan Lolos Kanegasaki.
Pada bulan September 1571, Nobunaga mengeluarkan perintah untuk membakar kuil Enryakuji yang memakan korban tewas sebanyak 4.000 orang. Korban tewas sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak, termasuk pendeta kepala kuil Enryakuji yang ikut tewas terbunuh. Takeda Shingen dalam pernyataan yang mengecam keras tindakan Nobunaga mengatakan Nobunaga sudah berubah menjadi Raja Iblis. Bangsawan bernama Yamashina Toki dalam pernyataan yang menyesalkan tindakan Nobunaga mengatakan (Nobunaga) sudah menghancurkan ajaran agama Budha.
Nobunaga mengijinkan pelaksanaan perdagangan dan industry bebas yang disebut Rakuichi dan Rakuza, melindungi agama Kristen dan melakukan perdagangan dengan bangsa Portugis dan Spanyol. Agama Kristen mulai penyebarannya sejak datangnya seorang misonaris dari syarikatnYesus di Spanyol yang bernama Fransisco Xavier ke kagoshima pada tahun 1549. Orang-orang Portugis dan Spanyol melakukan perdagangan untuk menyebarkan agama Kristen, sedangkan Nobunaga melindungi agama Kristen sebagai alat atau cara untuk menekan agama Budha serta mendapatkan hasil-hasil budaya bernilai tinggi dari Eropa melalui perdagangan.
Pada tahun 1576, Nobunaga memulai pembangunan Istana Azuchi di pinggir Danau Biwa yang terletak di provinsi Ōmi. Pembangunan Istana Azuchi yang terlihat mewah dan mencolok berhasil diselesaikan pada tahun 1579. Istana dikabarkan terdiri dari 5 lantai dan 7 lapis atap, sedangkan bagian dalam menara utama menggunakan model atrium. Dalam surat yang dikirimkan ke negeri asalnya, seorang misionaris Yesuit memuji Istana Azuchi sebagai istana mewah yang di Eropa saja tidak ada.
Nobunaga pindah ke Istana Azuchi yang baru selesai dibangun setelah mewariskan Istana Gifu kepada putra pewarisnya Oda Nobutada. Istana Azuchi kemudian dijadikan pusat kekuasaan oleh Oda Nobunaga yang sedang berusaha untuk mempersatukan Jepang.
Pada tahun 1576, Nobunaga menyerang kuil Ishiyama Honganji. Pasukan Nobunaga yang terdiri dari 3.000 prajurit sempat terdesak, tapi akhirnya dapat mengalahkan pihak musuh yang terdiri dari 15.000 prajurit dalam Pertempuran Tennōji.
Pada tanggal 15 Mei 1582, Tokugawa Ieyasu berkunjung ke Istana Azuchi untuk mengucapkan terima kasih kepada Nobunaga atas penambahan Suruga ke dalam wilayah kekuasaannya. Nobunaga menugaskan Akechi Mitsuhide sebagai tuan rumah yang mengurus segala keperluan Ieyasu selama berada di Istana Azuchi mulai tanggal 15 Mei-17 Mei 1582.
Di tengah kunjungan Ieyasu di Istana Azuchi, Nobunaga menerima utusan yang dikirim Hashiba Hideyoshi yang meminta tambahan pasukan dari Nobunaga. Posisi Hideyoshi yang sedang bertempur merebut Istana Takamatsu di Bitchū dalam keadaan sulit, karena jumlah pasukan Mōri berada di atas jumlah pasukan Hideyoshi.
Nobunaga menanggapi permintaan bantuan Hideyoshi. Mitsuhide dibebaskan dari tugasnya sebagai tuan rumah bagi Ieyasu dan diperintahkan memimpin pasukan bantuan untuk Hideyoshi. Dalam jurnal militer Akechi Mitsuhide ditulis tentang Nobunaga yang tidak merasa puas dengan pelayanan Mitsuhide sewaktu menangani kunjungan Ieyasu. Nobunaga menyuruh anak laki-laki peliharaannya yang bernama Mori Ranmaru untuk memukul kepala Mitsuhide.
Nobunaga berangkat ke Kyoto pada tanggal 29 Mei 1582 dengan tujuan mempersiapkan pasukan yang dikirim untuk menyerang pasukan Mōri. Nobunaga menginap di kuil Honnōji, Kyoto. Akechi Mitsuhide yang sedang dalam perjalanan memimpin pasukan bala bantuan untuk Hideyoshi berbalik arah dan secara tiba-tiba muncul di Kyoto untuk melakukan serangan mendadak terhadap kuil Honnoji. Pada tanggal 2 Juni 1582, Nobunaga terpaksa melakukan bunuh diri, tapi kabarnya jenazah Nobunaga tidak pernah ditemukan. Peristiwa ini dikenal sebagai Insiden Honnōji. Setelah Nobunaga meninggal yang meneruskan pemerintahannya yaitu Hideyoshi.

2. Toyotomi Hideyoshi
Sepanjang zaman Sengoku, daimyo setempat di seluruh Negara memperkuat posisinya di wilayah masing-masing. Dari tempat itu mereka berusaha memperluas kekuasaannya, dan peperangan berlangsung tanpa henti-hentinya. Pada saat yang sama terdapat keinginan untuk tidak tertinggal dalam pertikaian dengan provinsi lain dan ini mengakibatkan mereka meperhatikan urusan-urusan dalam wilayahnya masing-masing dengan mengendalikan pengikutnya secara ketat dan menekankan kepatuhan kepada hokum yang beralku. Dengan demikian meskipun tindakan mereka sepintas lalu terlihat sebagai usaha yang mengarah kepada penghancuran, sesungguhnya terdapat segi lain yang bersifat membangun. Segi membangun ini mempersiapkan landasan bagi gerakan persatuan Negara. Sementara para daimyo, tanpa kecuali memperluas lingkaran pengaruhnya dengan cepat, mungkin dapat dianggap hal yang lumrah bahwa ada beberapa di antara mereka yang ingin menetap di Kyoto dan memegang kendali atas seluruh Negara. Orang pertama yang melaksanakan cita-cita seperti ini ialah oda Nobunaga dari provinsi Owari. Toyotomi Hideyoshi meneruskan usaha-usaha Nobunaga dan melanjutkan usaha pemersatuan hingga berhasil. Ia seorang samurai yang mengabdi pada Nobunaga dan berasal dari rakyat biasa, tapi berhasil menjadi penguasa di Istana Nagahama. Atas perintah Nobunaga ia berperang melawan kaum Mori, tetapi ketika mendengar berita kematian Nobunaga is kembali dan dalam peperangan Yamazaki ia mengalahkan Akechi Mitsuhide. Dengan demikian ia membalas dendam terhadap pengkhianat tuannya. Kemudian ia mengalahkan wilayah-wilayah lain menyerah kepadanya. Dengan demikian ia mempersatuian seluruh Negara pada tahun 1590.
Meskipun Nobunaga maupun Hideyoshi merupakan jenderal samurai, mereka tidak mendirikan bakufu. Sebagai gantinya mereka memangku kedudukan resmi di istana dan memerintah negara atas nama wewenang tradisional yang memiliki kaisar. Hideyoshi memangku jabatan sebagai kampaku yang dahulu menjadi monopoli keluarga Fujiwara, dan sebagai kampaku ia sangat menghormati keluarga kaisar. Di bidang pemerintahan sipil, ia mengadakan survey atas tanah yang mencakup wilayah yang luas dan mendirikan basisi bagi sistem pemilikan tanah feodal. Dengan cara melucuti para petani dan rahib yang bersenjata ia berhasil memisahkan antara militer dengan petani. Tambang emas dan perak dikendalikan secara langsung dan ia memerintahkan mencetak mata uang Jepang untuk pertama kalinya.
Zaman Sengoku menyaksikan kedatangan orang Eropa ke Jepang untukpertama kalinya dan dibukanya hubungan dengan Barat. Pada tahun 1543 sebuah kapal yang membawa bangsa Portugis berlabuh di Tanegashima di bagian Selatan Kyusu. Mereka membawa senjata api yang diterima dengan gembira oleh jendral-jendral Jepang dan senjata apai ini begitu cepat menyebar ke seluruh Jepang sehingga merupakan factor penentu dalam setiap peperangan.
Pada tahun 1549 Fransiskus Xaverius, salah seorang pendiri ordo Jesuit, tiba di Kagoshima dan membawa agama Kristen ke Jepang. Dari Kagoshima ia pergi ke Hirado, Yamaguchi, dan Oita, dan berhasil membuat orang masuk ke agama Kristen. Ia hanya tinggal di Jepang selama dua tahun tiga bulan, akan tetapi dalam waktu itu para misionaris berdatangan ke Jepang dan berusaha menyebarluaskan agama mereka serta memperkenalkan orang Jepang dengan berbagai segi kebudayaan Eropa. Nobunaga sesuai dengan sikapnya yang umumnya bersifat positif menerima baik masuknya agama baru ini, dan bahkan mengizinkan pendirian gereja di Kyoto dan Azuchi. Sedangkan Hideyoshi mula-mula juga memberikan perlindungan luas bagi agama Kristen, tetapi lama kelamaan ia curiga atas cita-cita territorial bangsa Eropa dan takut bahwa agama akan mengalahkan agama Jepang Shinto dan Budha serta merusak masyarakat. Karena itu ia akhirnya mengeluarkan perintah untuk mengusir para misionaris. Tetapi ia masih tetap mendorong perdagangan dan oleh karena itu perintah pengusiran tersebut hanya berlaku di atas kertas saja.
Orang-orang Jepang pada saat itu mulai mengarahkan pandangannya melampaui batas-batas pantainya sendiri, dan pedagang-pedagang Jepang telah giat dalam perdagangan dengan pulau Ryukyu, Formosa, Annam, Siam, dan daerah-daerah lainnya. Perak yang merupakan bahan mata uang utama dalam pasaran dunia Timur jauh dihasilkan dalam jumlah besar di Jepang. Hideyoshi memberikan sertifikat resmi kepada pedagang untuk melindungi hak usaha mereka dengan harapan bahwa mereka akan dapat dipaksa untuk berdagang dalam bentuk “pembayaran upeti” kepada Jepang. Tetapi Negara-negara ini menolak tuntutan itu. Hideyoshi bahkan meminta Korea dengan maksud akan mempeluas serangan pada akhirnya serangan itu macet dan diadakan persetujuan peletakan senjata karena persyaratan persetujuan tidak diindahkan. Kampanye militer dimulai kembali tetapi tentara Jepang terpaksa mundur dengan tewasnya  Hideyoshi. Pertempuran berlangsung selama tujuh tahun tetapi tidak menghasilkan apa-apa dan hanya mempercepat runtuhnya rezim Toyotomi.
Pada zaman Nobunaga dan Hideyoshi para daimyo baru dan pedagangpedagang kaya mulai menciptakan kebudayaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan terbuka, yang memberi kesempatan kepada mereka untuk mempertontonkan kekuasaanya. Produksi emas dan perak naik, dan kesenian mulai menggunakan kedua logam mulia ini secara besar-besaran dan menjadi sangat mencolok. Dengan berkembangnya arsitektur istana, timbul gaya menghias pintu-pintu geser dan dinding rumah-rumah dengan lukisan dekoratif yang berwarna warni. Kuil dan tempat –tempat arca di Kyoto hingga saat ini masih menyimpan sejumlah karya seperti ini yang dibuat oleh Kano Eitoku dan anak angkatnya, Sanharu. Pada zaman yang sama, upacara minum the berkembang dan akhirnya menjadi bentuk kesenian dan cara hidup oleh Sen-no-Rikyo yang terkenal itu. Orang-orang Eropa membawa berbagai macam barang dari luar negeri yang belum dikenal dan memperkaya kehidupan bangsa Jepang. Kata-kata yang berasal dari bahasa Portugis yang sekarang banyak terdapat dalam bahasa Jepang, termasuk bersama dengan barang-barang tadi pada zaman ini. untuk membantu kegiatannya, para misionaris menterjemahkan sejumlah buku dan kamus yang dicetak dengan alat pencetak yang dibawa ke Jepang dari Korea sebagai hasil sampingan dari perang dengan Negara itu. Dengan demikian percetakan masuk ke Jepang dari dua arah yang berlainan secara hamper serempak.
Yang lebih mahsyur adalah keputusan Hideyoshi untuk melakukan apa yang disebut sebagai Pelucutan Pedang  pada tahun 1588. Dengan mencabut hak membawa senjata bagi para penduduk desa, keputusan petani, dan mengurangi bahaya pemberontakan petani. Keputusan itu juga memisahkan samurai dari tanah garapan, dia menjadi lebih tergantung pada daimyo atasannya. Para samurai yang dengan gaya hidup sebelumnya adalah tergantung kepada hasil tanah garapan kini harus memilih antara senjata dan cara mendapat penghasilan hidup selama ini. Sebuah peraturan berikutnya, yang dikeluarkan pada tahun 1591, melarang samurai tinggal di dea, walau dia tidak lagi bekerja untuk tuan tanahnya, sedangkan petani dilarang meninggalkan tanahnya untuk pindah ke kota atau untuk berdagang. Semua ini adalah konsep-konsep mendasar yang diwariskan Hideyoshi kepada pimpinan Tokugawa yang menggantikannya. Tugas yang tersisa dan harus mereka selesaikan adalah membangun tata administrasi yang tidak terlalu bersifat pribadi seperti masa Hideyoshi juga dapat menertibkan daimyo.

ZAMAN EDO

Keshogunan Tokugawa (1603-1868) atau Keshogunan Edo (Edo bakufu) adalah pemerintahan diktator militer feodalisme di Jepang yang didirikan oleh Tokugawa Ieyasu dan secara turun temurun dipimpin oleh shogun keluarga Tokugawa. Dalam periode historis Jepang, masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa disebut zaman Edo, karena ibu kota terletak di Edo yang sekarang disebut Tokyo.
Pemerintahan keshogunan Tokugawa selama 264 tahun disebut sebagai zaman Edo atau zaman Tokugawa. Periode terakhir Keshogunan Tokugawa yang diwarnai dengan maraknya gerakan untuk menggulingkan keshogunan Tokugawa dikenal dengan sebutan Bakumatsu. Setelah Pertempuran Sekigahara di tahun 1600, kekuasaan pemerintah pusat direbut oleh Tokugawa Ieyasu yang menyelesaikan proses pengambilalihan kekuasaan dan mendapat gelar Sei-i Taishōgun di tahun 1603. Tokugawa Ieyasu sebetulnya tidak memenuhi syarat sebagai shogun karena bukan keturunan klan Minamoto. Agar syarat utama menjadi shogun terpenuhi, Ieyasu memalsukan garis keturunannya menjadi keturunan klan Minamoto agar bisa diangkat menjadi shogun. Keturunan Ieyasu secara turun-temurun menjadi shogun dan kepala pemerintahan sampai terjadinya Restorasi Meiji.

2.2.1 Pemerintahan Tokugawa Ieyasu
Di masa Keshogunan Tokugawa, rakyat Jepang dibagi-bagi menurut sistem kelas berdasarkan pembagian kelas yang diciptakan Toyotomi Hideyoshi. Kelas samurai berada di hirarki paling atas, diikuti petani, pengrajin dan pedagang. Pemberontakan sering terjadi akibat pembagian sistem kelas yang kaku dan tidak memungkinkan orang untuk berpindah kelas. Pajak yang dikenakan terhadap petani selalu berjumlah tetap dengan tidak memperhitungkan inflasi. Samurai yang menguasai tanah harus menanggung akibatnya, karena jumlah pajak yang berhasil dikumpulkan semakin hari nilainya semakin berkurang. Perselisihan soal pajak sering menyulut pertikaian antara petani kaya dan kalangan samurai yang terhormat tapi kurang makmur. Pertikaian sering memicu kerusuhan lokal hingga pemberontakan berskala besar yang umumnya dapat segera dipadamkan. Kelompok anti keshogunan Tokugawa justru semakin bertambah kuat setelah keshogunan Tokugawa mengambil kebijakan untuk bersekutu dengan kekuatan asing.
Setelah kalah dalam Perang Boshin yang berpuncak pada Restorasi Meiji, keshogunan Tokugawa berhasil ditumbangkan persekutuan kaisar dengan sejumlah daimyo yang berpengaruh. Keshogunan Tokugawa secara resmi berakhir setelah shogun Tokugawa ke-15 yang bernama Tokugawa Yoshinobu mundur dan kekuasaan dikembalikan ke tangan kaisar (Taisei Hōkan).
·    Keshogunan dan wilayahnya
Sistem politik feodal Jepang di zaman Edo disebut Bakuhan Taisei, baku dalam “bakuhan” berarti “tenda” yang merupakan singkatan dari bakufu (pemerintah militer atau keshogunan). Dalam sistem Bakuhan taisei, daimyo menguasai daerah-daerah yang disebut han dan membagi-bagikan tanah kepada pengikutnya. Sebagai imbalannya, pengikut daimyo berjanji untuk setia dan mendukung daimyo secara militer.
Kekuasaan pemerintah pusat berada di tangan shogun di Edo dan daimyo ditunjuk sebagai kepala pemerintahan di daerah. Daimyo memimpin provinsi sebagai wilayah berdaulat dan berhak menentukan sendiri sistem pemerintahan, sistem perpajakan, dan kebijakan dalam negeri. Sebagai imbalannya, daimyo wajib setia kepada shogun yang memegang kendali hubungan internasional dan keamanan dalam negeri. Shogun juga memiliki banyak provinsi dan berperan sebagai daimyo di provinsi yang dikuasainya. Keturunan keluarga Tokugawa disebar sebagai daimyo di seluruh pelosok Jepang untuk mengawasi daimyo lain agar tetap setia dan tidak bersekongkol melawan shogun.
Keshogunan Tokogawa berhak menyita, menganeksasi, atau memindahtangankan wilayah di antara para daimyo. Sistem Sankin Kotai mewajibkan daimyo bertugas secara bergiliran mendampingi shogun menjalankan fungsi pemerintahan di Edo. Daimyo harus memiliki rumah kediaman sebagai tempat tinggal kedua sewaktu bertugas di Edo. Anggota keluarga daimyo harus tetap tinggal di Edo sebagai penjaga rumah sewaktu daimyo sedang pulang ke daerah, sekaligus sebagai sandera kalau daimyo bertindak di luar keinginan shogun.
Daimyo dari keturunan klan Tokugawa dan daimyo yang secara turun temurun merupakan pengikut setia klan Tokugawa disebut Fudai Daimyo. Sedangkan daimyo yang baru setia kepada klan Tokugawa setelah bertekuk lutut dalam Pertempuran Sekigahara disebut Tozama Daimyo. Golongan yang selalu mendapat perlakuan khusus disebut Shimpan Daimyo, karena berasal tiga percabangan keluarga inti Tokugawa yang disebut Tokugawa Gosankei (Tiga keluarga terhormat Tokugawa) yang masing-masing dipimpin oleh putra Tokugawa Ieyasu:
·    Tokugawa Yoshinao, penguasahan Owari generasi pertama
·    Tokugawa Yorinobu, penguasahan Kishū generasi pertama
·    Tokugawa Yorifusa, penguasahan Mito generasi pertama.
Lambang keluarga Tokugawa berupa Mitsuba Aoi (tiga helai daun Aoi) hanya boleh digunakan garis keturunan utama keluarga Tokugawa dan Tokugawa Gosankei. Putra-putra lain Tokugawa Ieyasu hanya diberi nama keluarga Matsuidara dan tidak mendapatkan nama keluarga Tokugawa.
Di awal zaman Edo, keshogunan Tokugawa sangat kuatir terhadap Tozama Daimyo yang dianggap memiliki kesetiaan yang tipis terhadap klan Tokugawa. Berbagai macam strategi dirancang agar Tozama Daimyo tidak memberontak. Sanak keluarga klan Tokugawa sering dikawinkan dengan Tozama Daimyo, walaupun sebenarnya tujuan akhir keshogunan Tokugawa adalah memberantas habis semua Tozama Daimyo. Keshogunan Tokugawa justru akhirnya berhasil ditumbangkan Tozama Daimyo dari Satsuma, Choshu, Tosa, dan Hizen.
Keshogunan Tokugawa memiliki sekitar 250 wilayah han yang jumlahnya turun naik sesuai keadaan politik. Peringkat wilayah han ditentukan pemerintah berdasarkan total penghasilan daerah dalam setahun berdasarkan unit koku. Penghasilan minimal yang ditetapkan shogun untuk seorang daimyo adalah 10.000 koku. Daimyo yang memegang wilayah makmur dan berpengaruh mempunyai penghasilan sekitar 1 juta koku.
·    Hubungan Shogun dan kaisar
Keshogunan Tokugawa menjalankan pemerintah pusat dari Edo, sedangkan penguasa sah Jepang dipegang kaisar Jepang yang berkedudukan di Kyoto. Kebijakan pemerintahan dikeluarkan istana kaisar di Kyoto dan diteruskan kepada klan Tokugawa. Sistem ini berlangsung sampai kekuasaan pemerintah dikembalikan kepada kaisar di zaman Restorasi Meiji. Keshogunan Tokugawa menugaskan perwakilan tetap di Kyoto yang disebut Kyōto Shoshidai untuk berhubungan dengan kaisar, keluarga kaisar dan kalangan bangsawan.
·    Perdagangan Luar Negeri
Keshogunan Tokugawa mengeruk keuntungan besar dari monopoli perdagangan luar negeri dan hubungan internasional. Perdagangan dengan kapal asing dalam jumlah terbatas hanya diizinkan di Provinsi Satsuma dan daerah khusus Tsushima. Kapal-kapal Namban dari Portugal merupakan mitra dagang utama keshogunan Tokugawa yang diikuti jejaknya oleh kapal-kapal Belanda, Inggris dan Spanyol.
Jepang berperan aktif dalam perdagangan luar negeri sejak tahun 1600. Pada tahun 1615, misi dagang dan kedutaan besar di bawah pimpinan Hasekura Tsunenaga melintasi Samudra Pasifik ke Nueva Espana dengan menggunakan kapal perang Jepang bernama San Juan Bautista. Sampai dikeluarkannya kebijakan Sakoku di tahun 1635, shogun masih mengeluarkan izin bagi kapal-kapal Shuisen (Kapal Segel Merah) yang ingin berdagang dengan Asia. Setelah itu, perdagangan hanya diizinkan dengan kapal-kapal yang datang Tiongkok dan Belanda.
·    Akhir Keshogunan Tokugawa
Akhir Keshogunan Tokugawa atau Bakumatsu adalah periode antara tahun 1853 – 1867 saat Jepang mengakhiri politik isolasi. Bakumatsu dalam bahasa Jepang berarti akhir dari suatu pemerintahan Keshogunan (pemerintahan Bakufu), tapi kemudian berarti akhir dari zaman Edo atau Keshogunan Tokugawa.

 
1 Comment

Posted by on January 23, 2012 in Japanese

 

One response to “Jepang pada Zaman Azuchi Momoyama dan Zaman Edo

  1. Christina Indah

    June 27, 2013 at 3:25 pm

    Panjang bangeeeettt😥

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: