RSS

Peranan YAKUZA Dalam Perekonomian Jepang 1958-1992

30 Apr

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang perekonomiannya paling maju. Dalam hal perekonomian Jepang termasuk 10 besar dunia dalam kemampuan dan kemajuan ekonomi. Setelah Perang Dunia II Jepang mampu bangkit dan berhasil membangun kembali perekonomiannya. Hal ini didukung oleh sumber daya manusia Jepang, yaitu rakyat yang ulet, pekerja keras dan mampu bersaing dengan negara-negara maju. Salah  satu faktor pendukung kemajuan perekonomian Jepang adalah adanya peranan Yakuza yang melakukan kerjasama ekonomi dengan Amerika Serikat yang mendatangkan devisa cukup besar bagi perekonomian Jepang.

Pada masa keshogunan Tokugawa, Yakuza dibentuk untuk melawan kekuasaan Ronin yang meresahkan masyarakat pada saat itu namanya adalah machi-yoko. Mereka terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono atau ronin. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki mono. Pada perkembangan selanjutnya kaum machi-yoko ini meninggalkan profesi awalnya untuk melindungi masyarakat dan menjadi preman. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Kaum Tekiya suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Boss-bapak) dan Kobun (bawahan-anak), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza. Secara harfiah, istilah yakuza berarti angka 8-9-3 (ya=8, ku=9, za=3). Istilah ini diambil dari permainan kartu Jepang hana-fuda yang secara teknis hampir mirip permainan black jack. Dalam hana-fuda pemain akan mendapat poin jika angka berjumlah 19 atau 21. seperti yang kita lihat, kombinasi kartu angka 8,9 dan 3 bila dijumlah memiliki hasil 20, yaitu angka paling rendah dan tidak memiliki nilai dalam permainan hana-fuda ini.

Peruntungan kaum Yakuza berubah setelah Jepang menyerang Pearl Harbor. Militer mengambil alih kendali dari tangan Yakuza. Para anggota Yakuza akhirnya harus memilih apakah bergabung dalam birokrasi pemerintah menjadi tentara atau masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Sehingga dapat dikatakan pamor Yakuza tenggelam pada masa tersebut.

Setelah Jepang menyerah dalam perang dunia II, para anggota Yakuza kembali ke masyarakat. Setelah Perang dunia II inipula lahir tokoh yang berhasil mempersatukan seluruh organisasi Yakuza. Ia  adalah Yoshio Kodame, seorang mantan militer dengan pangkat terakhir Admiral Muda (yang dicapainya di usia 34 tahun). Yoshio Kodame berhasil mempersatukan dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Yakuza pun bertambah besar keanggotaannya terutama di periode 1958-1966. Pada periode ini organisasi Yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang atau lebih banyak daripada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Pada akhirnya karena  popularitas yang didapat Yoshio Kodame dinobatkan sebagai godfather-nya Yakuza.

Kodama memiliki kemampuan menstabilkan hubungan antara kelompok politik sayap kanan dan geng kriminal. Dia merupakan negosiator politik handal yang melayani pemerintah dalam usaha korupsi, mata-mata dan bisnis kotor lainnya (kuroi kiri). Dia pernah menjabat sebagai penasehat utama perdana menteri.

Yakuza Membiayai organisasi mereka dengan bisnis ilegal mereka seperti pachinko, perdagangan ampethamine (termasuk ice dan,ekstasi), prostitusi, pornografi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata. Di era 1980-an, Yakuza mengembangkan sayap mereka hingga ke Amerika, dan ikut masuk dalam bisnis legal yaitu bisnis “cuci uang”.

Di dalam negeri, Yakuza turut berperan dalam anjloknya ekonomi Jepang sebagai akibat menurunnya bisnis properti dan macetnya kredit bank di Jepang pasca 1990. Banyak debitor yang menyewa anggota Yakuza agar agunan mereka tidak disita oleh bank. Selain itu, banyak perusahaan yang memperoleh pinjaman bank yang pada dasarnya adalah sebuah kigyo shatei atau perusahaan boneka miliki Yakuza. Perusahaan milik Yakuza ini diperkirakan memperoleh kredit antara USD 300-400 Milyar  dan sebagian dari jumlah itu dialirkan ke induk organisasi Yakuza. Menghadapi kondisi seperti ini bank Jepang jelas tidak bisa berkutik.

Pada tanggal 1 Maret 1992 pemerintah Jepang menyetujui Undang-undang pencegahan pelanggaran hukum oleh Anggota Boryoku (yakuza atau geng kriminal). Dengan adanya undang-undang anti yakuza ini, bisnis yang dijalankan oleh yakuza akan menjadi sulit sehingga yakuza melakukan bisnisnya dengan tersembunyi.

 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2011 in Japanese

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: